Rara Sekar dan Isyana Sarasvati
Berdaya dengan Jalan Hidup Pilihan

Coach

Rara mengenakan Signature denim shorts, Bonnie cashin leather cape, Rogue 12 in signature textile jacquard, seluruhnya koleksi Coach; Isyana mengenakan Rave Bare T-shirt, Corduroy Loom pants, Plaid Shearling, Pillow Tabby shoulder bag 18 in shearling, seluruhnya koleksi Coach.

Rara Sekar dan Isyana Sarasvati. Dua musisi perempuan berbeda karakter; kakak-beradik, saudara kandung. Masing-masing punya kisah sendiri tentang bagaimana mereka menemukan jati diri dalam musik seiring pilihan menjalani hidup sesuai nurani.

Darah keluarga bukan satu-satunya benang merah antara Rara Sekar dan Isyana Sarasvati. Kakak-beradik terpaut 3 tahun tersebut—Rara lebih dulu menghirup udara bumi pada 1990, lalu Isyana menyusul di tahun 1993—sama-sama menaruh hati pada satu subjek: musik. Keduanya piawai berolah vokal, plus mahir bermain ragam alat musik, piano, organ, biola, gitar, flute, dan entah berapa banyak lagi yang tidak tersebutkan. Kendati bukan perihal mengherankan, meskipun tak selalu tipikal, bilamana Anda dibesarkan oleh keluarga yang memiliki kedekatan dengan dunia musik.

Keterlibatan Rara dan Isyana di dunia musik barangkali seperti sebuah pola yang disengajakan, namun sejatinya tidak. Mereka kompak menekankan bahwa musik adalah murni buah nurani masing-masing. “Orangtua memang memperkenalkan kami pada musik, tapi tidak pernah memaksakan. Pilihan hidup itu dibebaskan kepada kami sepenuhnya. Mereka menggarisbawahi untuk selalu mengerjakan sesuatu berlandaskan passions, dan sesuai dengan apa yang kami cintai,” ujar Isyana yang turut disetujui oleh saudara perempuannya.

Pertautan sedari kecil itu pun, pada akhirnya, mengantarkan jalan Rara dan Isyana ke dunia tempat mereka berpijak hari ini. Dunia di mana kedua perempuan ini dikagumi sebagai seorang komposer serta penulis lirik lagu nan ulung; dan atas kredibilitas itu, masing-masing menuai apresiasi Anugerah Musik Indonesia, ajang penghargaan musik prestisius di Indonesia. Secara profesional, perjalanan bermusik Rara dan Isyana sudah berlangsung hampir satu dekade. Karier mereka tidak terekam sebagai kesatuan grup selayaknya The Carpenters, Haim, Hanson, The Corrs, Bee Gees, atau grup musik keluarga lain yang Anda kenal. Rara Sekar dan Isyana Sarasvati mengukir jalan mereka secara terpisah; dalam ‘cabang arus yang berbeda’ bilamana istilah Rara.

Karakter vokal yang lembut dipadu aransemen catchy musik pop bernuansa R & B mengantarkan langkah kaki Isyana Sarasvati merajai tangga lagu populer sejak awal kemunculannya jagat musik Indonesia. Sementara Rara Sekar telah merengkuh reputasi yang solid di jalur musik indie. Lewat berbagai proyek musiknya bersama Banda Neira dan Daramuda di masa lampau, hingga kini mengibarkan benderanya sendiri di bawah nama Hara.

Coach

Anda berdua telah mendalami musik sejak usia sangat muda. Namun, apakah keinginan untuk menekuni musik sebagai profesi serta jalan hidup sudah ada sedari awal?

Isyana Sarasvati (IS): “Sudah sejak dulu, setiap kali ditanya perihal cita-cita, saya selalu menjawab ingin punya sekolah musik dan label rekaman. Jawaban itu bahkah jauh sebelum saya merintis karier di jalur musik populer.”

Rara Sekar (RS): “Hmm… Barangkali baru beberapa tahun lalu, ketika akhirnya berencana merealisasikan proyek musik solo, saya secara sadar dan yakin memutuskan ingin menjadi musisi profesional. Sebelum itu, saya tidak pernah benar-benar memandang musik sebagai sebuah karier. Sebab, sejujurnya, dahulu saya merasa kurang ada bakat di musik. Hahaha.”

Dan butuh waktu enam tahun untuk meneguhkan hati bahwa Anda ialah seorang musisi.

RS: “Melihat kelurusan Isyana dalam membangun kariernya secara serius, memukul kesadaran saya akan dedikasi seorang musisi yang harus 100 persen mencurahkan dirinya. Sementara, selama masa waktu itu, fokus saya masih terbagi-bagi mengerjakan banyak kegiatan di luar musik; saya masih memiliki banyak kegiatan di luar musik; sebagai peneliti dan akademisi. Jadi, saya perlu mencari formula ideal untuk membagi tiap fokus, termasuk juga waktu. Saya paling tidak suka mengerjakan sesuatu setengah hati. Pun saya enggak bakal tega kalau karya yang saya lahirkan tanpa sepenuh hati kemudian didengar orang. Sekarang saya masih terus berupaya untuk selalu sebisa mungkin membagi porsi yang utuh bagi setiap hal yang saya kerjakan. Tapi setidaknya saya merasa setiap langkah yang saya ambil lebih bermakna. Saya tidak berniat hidup dengan melakukan sesuatu tanpa makna.”

Coach

Isyana mengenakan Knit dress, Bandit shoulder bag, seluruhnya koleksi Coach.

Minialbum teranyar yang Anda rilis di tahun ini, My Mistery, memperdengarkan musik yang jauh berbeda dari gambaran Isyana Sarasvati kali pertama muncul. Beberapa orang bilang, Isyana Sarasvati seakan-akan terlahir kembali. Apakah Anda berpikir demikian; bahwa album tersebut cerminan titik awal seiring kini Anda berdiri di bawah label musik sendiri, Redrose Records?

IS: “Hidup berproses dalam siklus. Sebuah fase dimulai, berjalan, sampai menemukan akhirnya; lalu berganti fase yang baru lagi. Jadi, kalau album tersebut dipandang sebagai kelahiran kembali diri saya, tidak salah. Saya lahir kembali dengan musik yang menandai awalan titik fase kehidupan Isyana yang baru ini. Tetapi saya tidak dengan sengaja merencanakannya sebagai suatu ‘keharusan perubahan 180 derajat’ karena label yang baru. Exploration is my natural instinct. Wajar saja jika masyarakat luar yang tidak benar-benar mengenal saya—hanya lewat musik, media massa, social media—melihat sikap eksploratif saya sebagai sebuah perubahan. Tapi sesungguhnya, tidak ada yang berubah.”

Coach

Isyana mengenakan leather skirt Sub, Bonnie cashin advert print t-shirt, leather jacket, Coach x Mint + Serf Rogue Slim Brief 25, seluruhnya koleksi Coach.

Dipayungi label musik rintisan pribadi; apa artinya menjadi independen buat Anda?

IS: “Saya dapat memilih alur musik sendiri dan jalan hidup pribadi. Saya bisa bereksplorasi tanpa batas. Saya bebas memilih perihal sesuatu, terkait apa pun, sebagaimana apa yang menjadi keinginan saya; tanpa ada dorongan eksternal.”

Di setiap fase perjalanan bereksplorasi, apa yang senantiasa ingin disuarakan oleh Isyana Sarasvati?

IS: “Kejujuran dan kebebasan. Kita bebas untuk bersuara dan bereskpresi sesuai dengan apa yang ada di dalam diri kita. Saat berkarya, saya tidak memikirkan jumlah streaming. Saya percaya setiap karya yang tercipta memiliki jalannya masing-masing. Seperti eksplorasi musik progressive rock yang mengisi album My Mistery mengantarkan saya berkolaborasi dengan Deadquad. Dan bahkan dengan musik yang tidak lagi begitu ‘ngepop’ ditambah penampilan yang nyentrik seperti sekarang ini—rambut setengah hitam setengah merah—malah membukakan kesempatan kerja sama dengan beragam pihak. Jadi, kita hanya perlu yakin dan menjalaninya saja; yang penting adalah kita, sebagai seniman, bahagia dengan karya yang kita buat; selanjutnya itu akan mengaum dengan sendirinya.”

Coach

Rara mengenakan Plaid Babydoll dress, Bandit shoulder bag, seluruhnya koleksi Coach.

Rara, dalam situasi yang berbeda, Anda pun tengah merangkul independensi yang baru terkait karier bermusik. Anda berkarya solo sejak tahun 2020. Bagaimana transformasi ini memengaruhi gerak berkesenian Anda?

RS: “Tidak dipungkiri kalau beberapa kepala bersinggungan, dengan pemikiran serta ideologi berbeda-beda, bukanlah perkara ringan. Namun, sebenarnya mekanisme berkesenian saya senantiasa mengusung semangat kolaboratif; misalnya saya bekerja sama dengan berbagai pihak untuk merealisasikan Tur Kenduri. Cuma perbedaannya, dalam hal menentukan visi atau arah keberpihakan seninya jauh lebih sedikit komprominya, karena sumber utamanya adalah saya sendiri. Saat bekerja sama dengan pihak luar, saya akan mencari orang-orang yang satu pemikiran dan keyakinan dengan apa yang sedang ingin saya suarakan.”

Apa ambisi seorang Rara Sekar?

RS: “Saya bukan orang yang ambisius, tapi saya punya visi; tahu apa yang ingin saya raih dan bagaimana cara saya untuk mencapainya. Barangkali apa yang ingin saya gapai enggak selalu selaras dengan pengertian kebanyakan orang. Seperti tur musik Kenduri yang tampaknya sangat sederhana, bila dibandingkan dengan bermain di stadion terbesar dan ditonton oleh ratusan ribu orang. Tapi buat saya, tur sederhana itu adalah impian yang membuat diri saya merasa penuh dan utuh sebagai manusia; saya bisa mendengar suara sendiri dengan jelas, melihat ekspresi orang-orang yang mendengarkan saya dan bertukar emosi bersama mereka.”

Publication : Elle
INTERVIEW/TEXT : Ayu Novalia
PHOTOGRAPHER : Ryan Tandya
STYLING : Ismelya Muntu
Makeup : Yoan Yuana

Shop their look.

SHOP ALL
Coach Shop their look.

Bandit Shoulder Bag

IDR 11,990,000

SHOP NOW
Coach Shop their look.

Knit Dress

IDR 11,490,000

SHOP NOW
Coach Shop their look.

Plaid Baby Doll Dress

IDR 10,190,000

SHOP NOW
Coach Shop their look.

Pillow Tabby Shoulder Bag 18 In Shearling

Rp 10.790.000

SHOP NOW
Coach Shop their look.

Leather Jacket

IDR 14,190,000

SHOP NOW